26 November 2011

Kompos dari Rumput Laut

Rumput laut dikumpulkan sebagai limbah setiap tahunnya. Sumber lain limbah rumput laut adalah sampah dari industri yang digunakan untuk menyerap logam berat pada air limbah. Rumput laut dan kompos rumput laut dapat digunakan untuk pupuk. Namun kandungan garam dan logam berat yang masih tinggi menjadi masalah yang dihadapi. Masalah lain yang dihadapi adalah kandungan polisakarida yang cukup tinggi seperti laminaran, fukoidan, dan alginat. Alginat dalam tanah mengalami perombakan yang cukup lambat sehingga perlu ditambahkan enzim tertentu untuk mendegradasinya. Undaria pinnatifida memiliki kandungan alginat yang cukup tinggi. Wakame digunakan untuk mengurangi kandungan N dan P dari air laut yang terkontaminasi 


Selama pembuatan kompos rumput laut Undaria pinnatifida terjadi perubahan pada suhu, pH, CO2, dan rasio C/N. Suhu kompos rumput laut meningkat seiring dengan lama proses pembuatan kompos. Namun setelah 83 jam terjadi penurunan. Suhu rumput laut pada perlakuan kontrol (tanpa penambahan bakteri pendegradasi alginate) masih terus meningkat yang menunjukkan bahwa proses dekomposisi rumput laut dengan menggunakan bakteri dimulai lebih awal. 

Kandungan CO2 selama dekomposisi bahan organik mengalami peningkatan selama waktu tertentu. Peningkatan ini terjadi karena respirasi yang dilakukan bakteri selama proses dekomposisi. Kandungan CO2 dan perubahan suhu selama dekomposisi berhubungan satu dengan yang lain yang dikarenakan oleh respirasi mikroba. Perubahan pH terjadi selama proses dekomposisi rumput laut Undaria pinnatifida. pH meningkat selama proses dekomposisi. Hal ini terjadi karena degradasi komponen yang mengandung nitrogen. Rasio C/N merupakan faktor penting yang memperlihatkan proses dekomposisi dan kualitas kompos. Peningkatan nilai C/N terjadi karena ada degradasi komponen selain alginate. 

Koloni bakteri dalam proses komposting mengalami peningkatan dengan A7 > AW4 > kontrol. Jumlah bakteri pada perlakuan A7 lebih besar jika dibandingkan dengan yang lain karena diduga bakteri Gracilibacillus sp dapat meningkatkan pertumbuhan bakteri lain dengan mendegradasi wakame. Peningkatan bakteri perlakuan AW4 tidak diikuti dengan pemecahan alginat yang banyak, hal ini mengindikasikan bahwa pemecahan alginat oleh bakteri A7 lebih efektif. 

Terjadi penurunan gula selama proses pembuatan kompos. Selama alginate merupakan komponen utama pada wakame, maka penurunan kadar alginate merupakan acuan untuk mengetahui kemampuan mikroba untuk mendegradasi polisakarida. Dekomposisi wakame dengan menggunakan bakteri pendegradasi alginate terjadi lebih optimal jika dibandingkan dengan menggunakan bakteri lain dari lingkungan laut, namun aktivitas bakteri ini untuk mendegradasi alginate masih terlihat. 

Produksi kompos menggunakan bakteri pendegradasi alginat dapat menjadi sumber pupuk yang baik, dengan pertimbangan kandungan logam berat dan bahan-bahan berbahaya lainnya masih dalam batas yang dapat diterima. Masalah lainnya adalah kandungan garam yang tinggi dalam rumput laut. Masalah ini dapat diatasi dengan mencampur wakame dengan bahan yang lain atau dengan menggunakan rumput laut pada saat masa pertumbuhan yang memiliki kandungan garam terendah.

Sumber :
Tang J, Wang M, Zhou Q, Nagata S. 2011. Improved composting of Undaria pinnatifida seaweed by inoculation with Halomonas and Gracilibacillus sp. isolated from marine environments. Bioresource Technology. 102: 2925–2930

27 June 2011

Limbah Ikan Bisa Disulap Menjadi Emas

Kali ini topik kita mengenai sulap (hehe). Tidak tanggung-tanggung kita akan menyulap limbah ikan menjadi emas, seperti judul postingan ini "Limbah Ikan Bisa Disulap Menjadi Emas". Percaya???

Siapa yang pernah melihat ikan? Lalu siapa yang tidak pernah melihat limbah ikan? Bagi teman-teman yang sering membantu ibu pergi ke pasar, teman-teman akan melihat limbah-limbah ikan yang berbau khas sedikit menyengat.



Limbah-limbah itu sebaiknya tidak dibuang begitu saja. Limbah-limbah itu dapat diolah menjadi berbagai produk yang bermanfaat. Sebagai contoh adalah tepung ikan. Tepung ikan ini nantinya akan digunakan sebagai pakan untuk ternak atau untuk ikan.

Tapi tahukah teman-teman, kalau selain itu limbah-limbah ikan tersebut dapat diolah menjadi produk yang bernilai jual tinggi. Harga jualnya pun menjadi berkali lipat. Yak benar sekali, seperti judul postingan ini LIMBAH IKAN tersebut dapat diolah menjadi bukan EMAS, tapi pepton.

Lalu apa itu pepton???

Pepton adalah salah satu bahan yang digunakan untuk membuat media kultur bakteri. pernahkah kamu mendengar media nutrient agar? atau media Luria Broth? Jika teman-teman pernah bekerja di laboratorium mikrobiologi pasti pernah mendengarnya. Pepton ternyata merupakan salah satu bahannya selain tentunya bahan-bahan yang lain seperti yeast extract, NaCl, dsb. Pepton dapat dihasilkan melalui beberapa proses. seperti hidrolisis, sntrifuse, filtrasi, pengeringan.



Pepton berbentuk bubuk yang bersifat higroskofis, jadi jangan dibiarkan lama kontak dengan udara. Warna yang dihasilkan juga bergantung dari proses saat pembuatan. Ketika dilarutkan ke dalam akuades, pepton itu akan larut. Tingkat kelarutan pepton mencapai 100%. Hal ini diduga disebabkan oleh derajat hidrolisis yang dialami oleh protein hingga menjadi pepton.

Harganya???

Informasi yang saya dapat, harga pepton masih bisa terjangkau $88 per 500 gram (pepton komersial). Lumayan jika dikonversi menjadi rupiah. Makanya teman-teman yang melakukan penelitian tentang mikrobiologi atau sebangsanya harus mengeluarkan kocek yang tak sedikit. Wajib hukumnya penelitian itu merupakan proyek atau hibah (hehe). Harga pepton aja segitu, belum lagi bahan-bahan yang lain.

Jadi limbah ikan masih bisa diolah menjadi produk yang bernilai jual tinggi. Catatannya adalah proses produksi yang dilakukan juga harus baik.