07 June 2012

Disc Diffusion Method


Penapisan antibakteri saat ini sedang gencar dilakukan, untuk mendapatkan alternatif antibakteri yang memiliki kemampuan yang lebih baik. Untuk menguji antibakteri tersebut perlu adanya metode uji yang mumpuni. Salah satunya adalah dengan metode difusi. Metode difusi dapat dilakukan dengan metode disc diffusion. Tujuan dari tes Kirby-Bauer difusi disk adalah untuk menentukan sensitivitas atau resistensi patogen aerobik dan bakteri fakultatif anaerob untuk berbagai senyawa antimikroba untuk membantu dokter dalam memilih pilihan pengobatan pada pasien-pasiennya. Organisme patogen ditanam di Mueller-Hinton agar dengan berbagai antimikroba di kertas saring. Ada atau tidak adanya pertumbuhan di sekitar disk adalah ukuran tidak langsung dari kemampuan senyawa untuk menghambat organisme.




Ketika 6-mm kertas penyaring disk yang diresapi dengan konsentrasi senyawa antimikroba ditempatkan di cawan Mueller-Hinton (MH) agar, air segera diserap ke dalam disk dari agar-agar. Antimikroba mulai berdifusi ke dalam agar-agar sekitarnya. Laju difusi melalui agar tidak secepat laju ekstraksi keluar antimikroba dari disk, sehingga konsentrasi antimikroba paling tinggi paling dekat dengan disk. Laju difusi antimikroba melalui agar-agar tergantung pada sifat difusi dan kelarutan obat dalam agar-agar MH dan berat molekul dari senyawa antimikroba. Faktor-faktor ini mengakibatkan setiap antimikroba memiliki zona yang menunjukkan kerentanan terhadap senyawa antimikroba (Hudzicki 2012).

Media untuk Uji Disc Diffusion
Mueller-Hinton agar dianggap sebagai media terbaik untuk pengujian kerentanan bakteri nonfastidious untuk alasan berikut : dapat diterima batch ke batch untuk reproduktifitas uji kerentanan; sangat rendah dalam sulfonamida, trimetoprim, dan inhibitor tetrasiklin, mendukung pertumbuhan yang memuaskan untuk patogen nonfastidious; data-data dalam jumlah besar dan pengalaman telah dikumpulkan tentang uji kerentanan dilakukan dengan media ini

Formula Mueller-Hinton agar dalam satu liter air murni adalah sebagai berikut : Beef (300.0 g), Casamino acid, technical (17.5 g), Starch (1.5 g), Agar (17.0 g). pH MH harus berkisar antara 7,2 dan 7,4 pada suhu kamar setelah pemadatan dan harus diuji ketika media pertama disiapkan. Jika pH < 7,2 obat-obatan tertentu akan kehilangan potensi (aminoglikosida, kuinolon, makrolid), sementara agen lain mungkin tampak memiliki aktivitas yang berlebihan (tetrasiklin). Jika pH > 7,4 hasil yang sebaliknya dapat terjadi (Hudzicki 2012).


Standar untuk persiapan Inokulum
Standar McFarland adalah suspensi barium sulfat atau partikel lateks yang memungkinkan perbandingan visual dari kepadatan bakteri. Standar komersial tersedia untuk dibeli dari perusahaan seperti Remel atau BD BBL. Ini sering menyertakan kartu Wickerham, yang merupakan kartu kecil yang berisi garis-garis hitam paralel. Sebuah standar McFarland 0,5 setara dengan suspensi bakteri yang mengandung antara 1 x 108 dan 2 x 108 CFU / ml.

0,5 McFarland disiapkan dengan cara sebagai berikut : tambahkan 0,5-ml 0,048 mol/liter BaCl2 (1,175% berat/volume BaCl2 • 2H20) dan 99,5 ml dari 0,18 mol/liter H2SO4 (1% vol/vol) dengan pengadukan yang konstan untuk mempertahankan suspensi. Periksa kepadatan yang benar dari standar kekeruhan dengan mengukur absorbansi pada spektrofotometer dengan Absorbansi pada 625 nm. Kekeruhan harus bernilai 0,08-0,13 untuk 0,5 McFarland standar. Transfer suspensi barium sulfat dalam 4 - 6-ml aliquot ke tabung dengan ukuran yang sama dengan yang digunakan dalam standardisasi inokulum bakteri. Tutup tabung dan disimpan dalam gelap pada suhu kamar.


Peletakan disk ke permukaan agar
Cakram yang telah berisi antimikroba diletakkan pada permukaan agar, baik menggunakan forsep untuk mengeluarkan setiap disk antimikroba satu persatu, atau dispenser multidisk untuk mengeluarkan beberapa disk sekaligus. Setiap cakram harus ditekan untuk memastikan kontak dengan media. Disk harus ditempatkan secara merata, dengan jarak antar pusat tidak kurang dari 24 mm. Untuk plate yang berukuran 150 mm, jumlah disk yang boleh ditempatkan maksimal 12 disk, sedangkan untuk plate berukuran 100 mm, maksimal 5 disk yang boleh ditambahkan ke agar.
Penempatan cakram sekaligus menggunakan alat
Penempatan cakram satu per satu

Pembacaan Hasil dan Interpretasi
Plate yang telah diinkubasi selama 16-18 jam diamati pertumbuhan bakterinya. Diameter zona bening diamati dengan mata telanjang. Zona diukur pada diameter terdekat. Pengamatan dilakukan menggunakan penggaris pada bagian belakang plate. Pengamatan dilakukan beberapa inch diatas latar belakang berwarna hitam dengan pencahayaan yang dipantulkan. Jika darah ditambahkan ke dalam agar, maka pengamatan dilakukan dari atas agar, dengan pencahayaan hasil pantulan, dan penutup dilepaskan.



22 May 2012

Deskripsi Ikan Air Tawar Famili Cannidae


Pagi-pagi seperti ini enaknya minum kopi sambil mengupdate blog. Sudah lama tidak mengupdate beberapa kategori blog. Saat ini saya ingin mengumpulkan beberapa materi dari teman-teman saya di kampus, kemudian saya posting di blog ini. Untungnya ada teman yang bersedia, dan inilah judul yang saya angkat "deskripsi ikan air tawar famili Cannidae". Sepertinya tidak usah berpanjang lebar pengantarnya, mari kita lanjutkan.

01 May 2012

Filtrasi untuk Recovery Protein Terlarut


Ikan merupakan sumber protein yang sangat penting untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Namun ternyata masih ada ikan yang tidak dimanfaatkan karena memiliki nilai ekonomis yang rendah. Salah satu solusi untuk meningkatkan nilai bahan baku adalah dengan meningkatkan porsi ikan yang diperuntukkan bagi konsumsi manusia, misalnya dengan produksi surimi. Salah satu kekurangan produksi surimi secara klasik adalah rendahnya protein yang dihasilkan.


Gambar surimi yang telah diolah
Gambar large surimi

Peneliti mulai melakukan penelitian untuk dapat menambah nilai protein pada surimi serta dapat meningkatkan porsi ikan yang dapat dikonsumsi. Penelitian yang dilakukan oleh Palafox et al. (2009) menyebutkan protein banyak diperoleh dengan menggunakan ekstraksi asam atau basa, menyediakan protein yang terlarut, bahkan untuk bahan baku yang telah dibekukan, yang memberikan keuntungan pada pengolahan cumi-cumi walaupun telah disimpan beku dalam waktu yang lama. Proses menggunakan asam dan basa memberikan protein yang lebih banyak, menghilangkan bau tak sedap dari komponen otot cumi-cumi.

Filtrasi sebagai pengganti sentrifugasi pada tahap pemisahan pertama menjadi sangat menarik. Filtrasi mungkin menghilangkan protein tidak terlarut dan kotoran, dan secara bersamaan dapat meningkatkan protein yang dihasilkan. Nolsoe et al. (2007) untuk pertama kali menunjukkan bahwa filtrasi dapat menjadi alternatif yang manjanjikan untuk mengganti sentrifugasi selama pH-shift basa pada fresh cod, pollock, dan otot mackarel. Penelitian ini menunjukkan protein yang dihasilkan meningkat ketika tahap pertama sentrifugasi diganti menggunakan filtrasi, sedangkan kualitas gel surimi mengalami penurunan. Mengganti tahap sentrifugasi kedua dengan filtrasi tidak berpengaruh pada hasil dan kualitas surimi. Filtrasi dapat menjadi alternatif yang menjanjikan jika kualitas gel surimi tidak menjadi prioritas yang utama.

Aplikasi sentrifus berkecepatan tinggi pada metode pH-shift merupakan cara untuk menghilangkan lemak. Penghilangan lemak jika berhasil dengan sempurna akan dapat mengurangi ketengikan dan menghilangkan kontaminan lemak terlarut seperti dioxin dan dioxin-like PCB’s. Alasan utama dibalik penggantian sentrifugasi menjadi filtrasi adalah banyaknya protein yang terperangkap dalam sedimen yang terbentuk saat sentrifugasi homogenan asam/basa. Sedimen tersebut berhubungan dengan viskositas yang tinggi dari homogenan yang telah diatur pH-nya, yang pada gilirannya berasal dari ekspansi dan solvasi parsial agregat protein.

Penggunaan bahan baku dalam bentuk beku, khususnya untuk pengolahan adalah isu penting lainnya yang menguntungkan produser surimi, sebagai pengguna bahan baku akan membayar kesempatan untuk bahkan tidak produksi untuk waktu yang lama. Pada penelitian juga dilakukan pengujian untuk melihat pengaruh filtrasi pada kandungan lemak dan pigmen.


Nolsoe et al. (2011) menyebutkan bahwa hasil protein ketika menggunakan filtrasi jika dibandingkan dengan sentrifugasi menjadi lebih besar pada perlakuan dengan asam maupun dengan basa, serta menggunakan bahan baku mentah maupun beku. Peningkatan hasil mencapai 60% dan dijelaskan oleh fraksi yang lebih kecil dari protein terlarut, yang terperangkap dalam pellet.

Seperti yang diharapkan, kandungan lipid dari isolat protein yang dihasilkan menggunakan filtrasi lebih besar dibandingkan dengan yang dihasilkan oleh sentrifugasi. Bagaimanapun literatur menyebutkan perbedaan kandungan lemak antara isolat yang dibuat dengan filtrasi dan sentrifugasi tidak menyebabkan peningkatan ketengikan

Apek terpenting dari isolat protein ikan dan surimi adalah warna. Umumnya, semakin putih isolat protein/surimi, maka harga di pasar akan makin tinggi. Masalah perubahan warna biasanya muncul karena adanya melanin, misalnya dari mata dan kulit, seperti dari hemoglobin dan myoglobin darah dan otot gelap. Isolat dan gel surimi dari metode pH-shift mengandung pigmen yang sedikit dibandingkan dengan bahan baku. Penggantian sentrifugasi dengan filtrasi menunjukkan kecendrungan whiteness yang rendah (isolat dari bahan baku mentah). Sedangkan pada bahan baku dalam kondisi beku diperoleh yellowness dan redness yang lebih tinggi pada filtrasi dibandingkan dengan sentrfugasi. Fakta ini ditunjukkan oleh isolat protein dan gel surimi. Hal tersebut mungkin dapat dijelaskan oleh kemampuan grup hidrofobik darah untuk mengendap bersama dengan lipid menjadi bentuk sedimen menggunakan sentrifugasi.

Keelastisan gel surimi dari isolat menggunakan filtrasi lebih rendah dibandingkan sentrifugasi. Ketika gel surimi dibuat, isolat dibuat memiliki kandungan bahan kering yang sama. Selama protein dan lemak berkontribusi pada bahan kering, kandungan lipid yang tinggi dari isolat protein dari proses filtrasi berkontribusi pada kandungan protein yang rendah pada gel.





22 April 2012

Spirulina : Manfaat Yang Disediakan Alam

Alangkah kayanya perairan kita, memiliki sumber-sumber makro dan mikronutrien yang melimpah. Kita tidak perlu berjalan jauh untuk menemukan manfaat yang diberikan oleh alam. Alam telah menyediakan untuk kita. Salah satu kekayaan alam tersebut adalah Spirulina, organisme kecil yang memiliki manfaat besar. Ada yang tidak setuju? mari kita lihat kajian mengenai spirulina.

21 April 2012

Chlorella sp.



Mikroalga jenis Chlorella spp. berwarna hijau, pergerakannya tidak motil dan struktur tubuhnya tidak memiliki flagel. Organisasi selnya berbentuk uniseluler, multiseluler, dan membentuk koloni. Mikroalga ini hanya melakukan reproduksi tipe aseksual, yaitu pemberlahan diri secara mitosis. Chlorella spp. dapat tumbuh dengan baik pada salinitas 0-35‰ dan yang optimal pada 10-20‰ dengan kisaran suhu optimal 25-30 oC dan maksimum pada 40 oC (Kawaroe et al 2010). Klasifikasi Chlorella sp, yang termasuk dalam kelas alga hijau adalah sebagai berikut (Kawaroe et al. 2010) :