Showing posts with label Rumput Laut. Show all posts
Showing posts with label Rumput Laut. Show all posts

24 October 2014

Kelp sebagai Sumber Biofuel

Laut memberikan sumber daya alam yang bermanfaat untuk kita. berbagai jenis ikan tersedia di laut untuk bisa dimanfaatkan oleh manusia. Bukan hanya untuk pangan, laut juga menyediakan sumber energi untuk manusia misalnya minyak bumi. Namun sekarang ini terdapat permasalahan yang harus dicari solusinya yaitu semakin menipisnya sumber minyak mentah.


Laut kembali menunjukkan manfaatnya bagi manusia untuk masa depan yang lebih cerah. Salah satunya adalah menyediakan rumput laut yang mampu diproduksi menjadi biofuel.

Energi terbarukan menjadi solusi terdepan untuk mengatasi semakin berkurangnya ketersediaan bahan bakar minyak. Penelitian tentunya sudah banyak dilakukan. Alangkah bagusnya jika semakin banyak opsi yang ditemukan. Setidaknya dari sekian banyak opsi, ada satu yang nantinya menjadi energi terbarukan untuk masa depan.

Khanh-Quang Tran adalah salah satu peneliti yang menekuni produksi biofuel. Beliau melakukan penelitian untuk melihat potensi makroalga (rumput laut) sebagai sumber biofuel. Tran memanaskan campuran Laminaria saccharina menggunakan teknik fast hydrotermal liquefaction. Hasilnya adalah Yield yang dihasilkan mencapai 79%. Yield yang tinggi dibandingkan menggunakan yeknik biasa dari spesies yang sama. Terobosan yang dilakukan oleh Tran adalah dengan menggunakan teknik rapid heating.

Penelitian yang dilakukan oleh Tran telah dipublish pada jurnal Quang-Vu Bach, Miguel Valcuende Sillero, Khanh-Quang Tran, Jorunn Skjermo. Fast hydrothermal liquefaction of a Norwegian macro-alga: Screening tests. Algal Research, 2014; DOI: 10.1016/j.algal.2014.05.009  

28 July 2013

Rumput Laut sebagai Alternatif Sumber Protein

Apakah teman-teman tahu apa itu rumput laut? Biota perairan yang biasa digunakan untuk bahan baku agar, karagenan, dan alginat. Apakah teman-teman tahu ternyata rumput laut ada yang mengandung protein cukup tinggi? Berikut akan diulas mengenai rumput laut tersebut, yang saya kutip dari sciencedaily.com


Penelitian menunjukkan bahwa rumput laut merah yang kaya protein seperti Palmaria palmata dan Porphyra merupakan spesies yang berpotensi digunakan sebagai sumber protein dan dapat bersaing dengan hasil pertanian kaya protein seperti soya bean. Sebagai contoh Dulse sebutan lain dari P. palmata mengantung protein dengan kisaran 9-25% (bergantung musim pemanenan) Persentase protein tertinggi pada P. palmata biasanaya terdapat pada rumput laut yang dipanen ketika musim dingin (Oktober-Januari). Kandungan asam-asam amino penting juga terdapat pada Dulse, seperti leusin, valin, dan metionin.

Peneliti menemukan peptida penghambat renin dalam rumput laut P. palmata. Jenis peptida ini belum pernah diidentifikasi pada spesies rumput laut. Saat ini protein hidrolisat dari P. palmata sedang diteliti pengaruhnya terhadap roti, terutama untuk parameter sensori,  kandungan lemak, abu, dan protein. Isolat protein dari P. palmata mungkin dapat digunakan untuk industri khususnya untuk produk rendah lemak.

26 November 2011

Kompos dari Rumput Laut

Rumput laut dikumpulkan sebagai limbah setiap tahunnya. Sumber lain limbah rumput laut adalah sampah dari industri yang digunakan untuk menyerap logam berat pada air limbah. Rumput laut dan kompos rumput laut dapat digunakan untuk pupuk. Namun kandungan garam dan logam berat yang masih tinggi menjadi masalah yang dihadapi. Masalah lain yang dihadapi adalah kandungan polisakarida yang cukup tinggi seperti laminaran, fukoidan, dan alginat. Alginat dalam tanah mengalami perombakan yang cukup lambat sehingga perlu ditambahkan enzim tertentu untuk mendegradasinya. Undaria pinnatifida memiliki kandungan alginat yang cukup tinggi. Wakame digunakan untuk mengurangi kandungan N dan P dari air laut yang terkontaminasi 


Selama pembuatan kompos rumput laut Undaria pinnatifida terjadi perubahan pada suhu, pH, CO2, dan rasio C/N. Suhu kompos rumput laut meningkat seiring dengan lama proses pembuatan kompos. Namun setelah 83 jam terjadi penurunan. Suhu rumput laut pada perlakuan kontrol (tanpa penambahan bakteri pendegradasi alginate) masih terus meningkat yang menunjukkan bahwa proses dekomposisi rumput laut dengan menggunakan bakteri dimulai lebih awal. 

Kandungan CO2 selama dekomposisi bahan organik mengalami peningkatan selama waktu tertentu. Peningkatan ini terjadi karena respirasi yang dilakukan bakteri selama proses dekomposisi. Kandungan CO2 dan perubahan suhu selama dekomposisi berhubungan satu dengan yang lain yang dikarenakan oleh respirasi mikroba. Perubahan pH terjadi selama proses dekomposisi rumput laut Undaria pinnatifida. pH meningkat selama proses dekomposisi. Hal ini terjadi karena degradasi komponen yang mengandung nitrogen. Rasio C/N merupakan faktor penting yang memperlihatkan proses dekomposisi dan kualitas kompos. Peningkatan nilai C/N terjadi karena ada degradasi komponen selain alginate. 

Koloni bakteri dalam proses komposting mengalami peningkatan dengan A7 > AW4 > kontrol. Jumlah bakteri pada perlakuan A7 lebih besar jika dibandingkan dengan yang lain karena diduga bakteri Gracilibacillus sp dapat meningkatkan pertumbuhan bakteri lain dengan mendegradasi wakame. Peningkatan bakteri perlakuan AW4 tidak diikuti dengan pemecahan alginat yang banyak, hal ini mengindikasikan bahwa pemecahan alginat oleh bakteri A7 lebih efektif. 

Terjadi penurunan gula selama proses pembuatan kompos. Selama alginate merupakan komponen utama pada wakame, maka penurunan kadar alginate merupakan acuan untuk mengetahui kemampuan mikroba untuk mendegradasi polisakarida. Dekomposisi wakame dengan menggunakan bakteri pendegradasi alginate terjadi lebih optimal jika dibandingkan dengan menggunakan bakteri lain dari lingkungan laut, namun aktivitas bakteri ini untuk mendegradasi alginate masih terlihat. 

Produksi kompos menggunakan bakteri pendegradasi alginat dapat menjadi sumber pupuk yang baik, dengan pertimbangan kandungan logam berat dan bahan-bahan berbahaya lainnya masih dalam batas yang dapat diterima. Masalah lainnya adalah kandungan garam yang tinggi dalam rumput laut. Masalah ini dapat diatasi dengan mencampur wakame dengan bahan yang lain atau dengan menggunakan rumput laut pada saat masa pertumbuhan yang memiliki kandungan garam terendah.

Sumber :
Tang J, Wang M, Zhou Q, Nagata S. 2011. Improved composting of Undaria pinnatifida seaweed by inoculation with Halomonas and Gracilibacillus sp. isolated from marine environments. Bioresource Technology. 102: 2925–2930

17 October 2010

Kappaphycus alvarezii

Euchema cotonii merupakan salah satu jenis rumput laut merah (Rhodophyceae). Euchema cotonii adalah rumput laut penghasil karagenan (carragenophyte). Jenis karaginan yang dihasilkan dari rumput laut Euchema cotonii adalah kappa karagenan (Winarno 1990)

Klasifikasi Euchema cotonii menurut Atmaja et al (1996) diacu dalam Sukri (2006) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi : Rhodophyta
Kelas : Rhodophyceae
Ordo : Gigartinales
Famili : Solieriaceae
Spesies : Euchema alvarezii Doty
Kappaphycus alvarezii Doty



Euchema cotonii berubah nama menjadi Eucheuma alvarezii karena karaginan yang dihasilkan termasuk fraksi kappa karagenan (Doty 1985 diacu dalam Sukri 2006). Oleh karena itu, secara taksonomi disebut Kappaphycus alvarezii (Atmaja et al 1996 diacu dalam sukri 2006). Nama daerah cotonii lebih umum dikenal dan biasanya dipakai dalam dunia perdagangan.dan internasional.

Rumput laut Euchema cottonii memiliki ciri-ciri fisik seperti thallu silindris, permukaan licin, cartilogineus (lunak seperti tulang rawan), warna hijau, hijau kuning, abu-abu dan mera. Penampakan thallus bervariasi mulai dari bentuk sederhana sampai kompleks. Duri-duri pada thallus runcing memanjang agak jarang-jarang dan tidak bersusun melingkari thallus. Percabangan ke berbagai arah dengan batang-batang utama keluar saling berdekatan ke daerah asal (pangkal) (Atmaja et al 1996 diacu dalam Sukri 2006).

Sumber :

Sukri N. 2006. Karakteristik Alkali Treated Cottonii (ATC) dan karaginan dari rumput laut Eucheuma cottonii pada umur panen yang berbeda [skripsi] Bogor : Program Studi Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Winarno F.G. 1990. Teknologi Pengolahan Rumput Laut. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

03 October 2010

Rumput Laut Kering

Rumput laut adalah tanaman tingkat rendah berbentuk thallus (Thallophyta) yang tidak memiliki perbedaan susunan kerangka seperti akar, batang dan daun. Rumput laut termasuk jenis ganggang (algae) yang hidup di laut. Umumnya alga dapat dikelompokkan menjadi empat berdasarkan pigmen yang dikandungnya yaitu Chlorophyceae (Alga hijau), Cyanophyceae (alga hijau biru), Rhodophyceae (alga merah), dan Phaeophyceae (alga coklat). Alga hijau dan alga hijau biru banyak yang hidup dan berkembang di air tawar, sedangkan alga merah dan alga coklat ditemukan sebagai habitat laut. Kelompok inilah yang lebih banyak dikenal sebagai rumput laut atau seaweed (Winarno 1996). Syarat mutu rumput laut dapat dilihat pada tabel berikut.


Mutu rumput laut juga telah di atur dalam SNI. Komponen pengotor rumput laut contohnya adalah benda asing. Benda asing adalah semua benda yang tidak termasuk rumput laut, antara lain: garam, pasir, karang, kayu, ranting, dan rumput laut jenis lain (BSN 1998). Bau makanan banyak menentukan kelezatan bahan makanan tersebut. Bau-bauan baru dapat dikenali bila berbentuk uap, dan molekul-molekul komponen bau tersebut harus sempat menyentuh silia sel olfaktori, dan diteruskan ke otak dalam bentuk impuls listrik oleh ujung-ujung syaraf olfaktori (Winarno 1992).
Kadar air merupakan banyaknya air yang terkandung dalam bahan yang dinyatakan dalam persen. Kadar air merupakan salah satu karakteristik yang sangat penting pada bahan pangan, karena air dapat mempengaruhi penampakan, tekstur, dan cita rasa pada bahan pangan. Kadar air dalam bahan pangan ikut menentukan kesegaran dan daya awet bahan pangan tersebut, kadar air yang tinggi mengakibatkan mudahnya bakteri, kapang, dan khamir untuk berkembang biak, sehingga akan terjadi perubahan pada bahan pangan yang dapat mempercepat kebusukan dan menentukan tingkat kerentanan dari bahan pangan tersebut (Purwaningsih et al 2008).

Sumber :
[BSN] Badan Standarisasi Nasional. 1988. Rumput laut Kering. http://bsn.go.id/sni/syarat_rumputlautkering/. [8 April 2009]
Purwaningsih et al. 2008. Pengantar Praktikum Biokimia Hasil Perairan. Bogor : Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Winarno F.G. 1992. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta : Gramedia.
Winarno F.G. 1996. Teknologi Pengolahan Rumput Laut. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.